BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �
Tampilkan postingan dengan label dr. jean victor de bruyn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dr. jean victor de bruyn. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

13. Trilogi Jungle Pimpernel 2

jungle pimpernel2
Umumnya, pemerintah Belanda – disebut “orang-orang Kumpeni” oleh penduduk pedalaman waktu itu – di NG melakukan perjalanan ke dalam hutan rimba NG untuk salah satu dari tiga tujuan berikut. Untuk turne normal, perkenalan, atau ekspedisi hukuman atau patroli hukuman.

Ekspedisi Jan ter Poorten

Buku karya van Kampen diawali kisah ekspedisi Jan ter Poorten, seorang Kontrolir Pemerintahan Dalam Negeri di Nieuw Guinea Belanda dan rombongannya, di kawasan Digul yang dicapai pada hari kesembilan. Tujuan ekspedisi: untuk menegakkan wibawa pemerintah Belanda dengan menangkap serta mengadili para pengayau (head hunters) Papua di kawasan Mappi yang sudah membunuh beberapa orang dari suku Jahir.

Mendekati kawasan Mappi, rombongan ter Poorten bertambah dengan masuknya beberapa puluh orang lelaki suku Jahir. Mereka akan ikut mengepung para pengayau dari Mappi.

Rombongan itu mencakup beberapa orang Papua sebagai pemikul barang. Ekspedisi dengan berjalan kaki itu menempuh medan yang berat – gunung, rawa, hutan lebat, hujan yang bisa berlangsung berminggu-minggu; serangan nyamuk malaria yang mengakibatkan ter Poorten merasa pening, meminum tablet kinine dan mepacrine, dan tidur dalam kelambu di bivak (suatu pondok sementara) di hutan rimba; dan cuaca dingin yang mengharuskan rombongan ter Poorten harus makan nasi hangat dengan berbagai lauk-pauk, termasuk daging biawak yang dipanggang, serta minum kopi hangat; tapi orang Papua hanya makan sagu. Rombongan itu mencakup juga Gonda, seorang anggota polisi asal Ambon, dan dua orang asal Menado.

Kedekatan orang Belanda pada orang Ambon

Kedekatan orang Ambon pada orang Belanda ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Demi kepentingan bersama (mata uang itu), orang Ambon membutuhkan orang Belanda sama seperti orang Belanda membutuhkan orang Ambon (dua sisi dari mata uang itu). Lebih lagi, kebutuhan timbal-balik mereka saling mengisi dan melengkapi secara pas, mirip permainan jigsaw puzzle.

Van Kampen menyadari hubungan timbal-balik macam itu pada diri Gonda. Begini pemeriannya tentang Gonda. Dia sudah menjelajahi hutan-hutan Nieuw Guinea selama 20 tahun dan, karena itu, sudah mengembangkan naluri mara bahaya dan menghindarinya. Pengetahuan ini berguna bagi keberhasilan ekspedisi yang dipimpin Jan ter Poorten, majikannya. Tidak itu saja. Gonda juga seorang “kompas hidup” di hutan rimba NG. Lanjut van Kampen, Gonda sangat dibutuhkan dan sangat diandalkan, sangat setia kepada pemerintah Belanda dan pada mereka yang menjalankannya.

Dalam bab 11, van Kampen memberi pujian lain kepada Gonda, seorang Ambon yang hebat. Dia suatu cerminan dari kesetiaan orang-orang Ambon pada Belanda, suatu sikap mental yang mengakibatkan mereka unggul di atas ras-ras lain di Hindia Belanda. Orang-orang Ambon “boleh merasa ditinggikan di atas semua ras lain di kepulauan itu, mereka sangat setia. Di hutan, Anda tidak menginginkan kawan yang lebih baik, itu diakui setiap orang pegawai dalam negeri ….”

Alasan ter Poorten bekerja di NGB

Tapi Nieuw Guinea Belanda bukanlah suatu kawasan ideal bagi kebanyakan orang Belanda yang tinggal dan bekerja di Hindia Belanda. Lalu, mengapa Jan ter Poorten mau tinggal dan bekerja di kawasan itu?

Dia seorang idealis. Sejak HBS (Hogere Burger School, semacam SMA atau SMU) di Belanda, dia sudah bermimpi dan berkhayal dan memutuskan untuk bekerja di NGB. Sesudah tamat HBS, dia belajar indologi (ilmu tentang pemerintahan di Hindia Belanda yang mencakup juga pengetahuan antropologi-budaya) di Universitas Leiden, Belanda. Tujuan pertama dia sesudah selesai kuliah adalah Nieuw Guinea.

Tapi mereka di Den Haag, kota administratif pemerintah Belanda, dan Batavia, ibu kota Hindia Belanda, yang berurusan dengan pemerintahan di Hindia Belanda, memandang ter Poorten yang masih sangat muda dan idealis itu sebagai orang aneh. Pengirimannya sebagai seorang pegawai Pemerintahan dalam Negeri (PDN) dinilai terlalu cepat.

Ketika tiba di NG, para amtenar PDN senior yang dia temui tertawa. Mereka memandangnya sebagai seorang bodoh. Dia pasti tidak tahu Nieuw Guinea hanya cocok untuk orang-orang hukuman, cuma baik bagi idealis tanpa otak – kecuali untuk petualang terpelajar seperti Dr. de Bruyn. “Orang-orang normal tinggal sejauh-jauhnya dari Nieuw Guinea” (hal. 22).

Akan tetapi, Jan ter Poorten tidak terbawa cemoohan dan kritik negatif mereka. Dia memang punya cita-cita yang ingin dia wujudkan di NG. Cita-cita yang luhur. “Nieuw Guinea punya kemungkinan-kemungkinan,” dia menalar. “Tapi Nieuw Guinea kekurangan beberapa hal yang di luar tidak bisa diperoleh: cintakasih kepada tanah itu dan pemahaman tentang penduduknya” (hal. 22).

Kedua orang tua ter Poorten meninggal dunia ketika dia berusia delapan tahun. Sejak itu, dia dibesarkan seorang saudara perempuan ayahnya. Bibinya meninggal dunia dua tahun sebelum dia tiba di NG.

Mieke van der Veer

Semasa kuliah, dia berkenalan dan bersahabat dengan Mieke van der Veer, seorang mahasiswi dan teman kuliah indologi seperti dia. Timbullah suatu hubungan persahabatan yang hangat di antara mereka berdua. Di NG, ter Poorten menulis surat-surat yang panjang tentang NG kepada Mieke.

Mieke akhirnya datang ke Nieuw Guinea meskipun dia sebelumnya disarankan agar tidak datang. NG bukan suatu tanah yang cocok untuk seorang wanita Belanda seperti dia; tanah itu hanya cocok untuk lelaki Belanda!

Dia kemudian bekerja di Enarotali sebagai seorang ahli linguistik. Berdasarkan sekitar 10.000 kosakata bahasa suku Ekari yang sudah dihimpun Dr. J.V. de Bruyn, Mieke melanjutkan penelitian bahasa Ekari. Dia berharap hasil penelitiannya akan dipakai untuk pendidikan orang-orang Ekari.

Ekspedisi hukuman Jan ter Poorten ternyata gagal ketika dia dan rombongannya akan menyeberangi suatu kali. Orang-orang Jahir yang tersisa – sebagian sudah melarikan diri karena takut pada orang-orang Mappi – menolak menyeberangi sungai itu karena takut. Mereka percaya ada roh-roh air di dalamnya yang bisa mencelakakannya kalau mereka menyeberangi sungai itu. Ter Poorten dan rombongannya terpaksa kembali ke pos pemerintahan dan rumah mereka di Merauke, ditinggalkan secara diam-diam oleh semua lelaki Papua tersisa yang mengikuti mereka menuju Mappi.

Perjalanan pulang-balik Jan ter Poorten berat sekali. Dalam perjalanan ke Mappi, dia sudah menderita penyakit malaria; ketika melakukan perjalanan kembali, penyakit malaria itu mengakibatkan dia kehilangan kesadaran, siuman dan, sesudah merasa lebih baik, berjalan lagi. Di Merauke, dia mendapat perawatan medis selama tiga bulan.

Pengalaman van Kampen di Merauke dan Mappi

Di Merauke, van Kampen, satu-satunya orang asing yang waktu itu tinggal di pasanggarahan kota kecil itu, berjumpa tiga orang Belanda yang tinggal dan bekerja di sana. Mereka adalah Roodzand, seorang pastor Katolik; van Dijk, seorang dokter pemerintah Belanda; dan Helinga, seorang asisten residen senior yang seharusnya sudah lama pensiun tapi masih tetap bekerja.

Sapaan yang lazim waktu itu bagi seorang pastor Katolik asal Belanda adalah “pater”. Pater Roodzand yang bekerja lebih dari 25 tahun di NG memberi semacam tip tentang ketahanan hidup kepada van Kampen yang muda dan jelas belum berpengalaman di NG. Untuk bertahan hidup di NG, Roodzand mengandalkan tiga hal: iman Kristianinya dan dua karabin, sejenis senapan atau bedil ringan berlaras pendek.

Van Kampen kemudian bertemu dengan Jan ter Poorten dan Mieke van der Meer di Merauke. Mieke yang akan bekerja di Enarotali selama beberapa waktu diangkat menjadi seorang pegawai sementara bidang linguistik. Dalam pertemuan itu, van Kampen setuju untuk ikut rombongan Jan ter Poorten kembali ke kawasan Mappi.

Mappi menjadi suatu resor ketika pemerintah Belanda mendirikan posnya di sana tahun 1934. Beberapa tahun sebelumnya, misi Gereja Katolik sudah bekerja di Mappi tapi tanpa hasil. Tujuan pemerintah dan misi Katolik di Mapi adalah untuk memberi penduduk kawasan itu dasar-dasar peradaban Barat.

Suku Mappi terkenal waktu itu sebagai salah satu suku paling liar di Nieuw Guinea. Mereka pengayau yang tidak mau berurusan dengan pemerintah Belanda dan misi Katolik.

Van Kampen yang mengikuti patroli pimpinan Kontrolir Jan ter Poorten mencakup empat puluh orang Papua dari detasemen polisi Papua di Masin dan Tanah Merah, dua kawasan di NG bagian Selatan. Tapi perjalanan di hutan rimba menantang karena mereka berjalan tanpa memakai kompas.

Sebagai seorang wartawan dan penulis Belanda yang pertama kali mengikuti patroli di hutan rimba NG, van Kampen mengalami kejutan budaya berkali-kali ketika menyaksikan praktek-praktek budaya penduduk Papua yang berbeda dengan yang berlaku di Belanda dan dunia modern lainnya. Di Karemu, suatu kampung suku Mappi yang sudah ditinggalkan, dia menyaksikan untuk pertama kali ramok, tradisi menggantungkan pada tali tengkorak-tengkorak musuh yang sudah dipenggal kepalanya pada sepotong tali yang diayun-ayunkan dalam pesta pengayauan mereka. Dia tidak menyukai “kultus barbar” (hal. 73) ini. Di kampung Ararai Sungai Cook, ter Poorten dan rombongannya menemukan dua belas kepala manusia yang baru saja ditebas; kepala itu dipotong dengan pisau bambu sesudah korban dibunuh dengan anak panah. “Realitas berdarah” itu mengejutkan van Kampen yang sudah mengikuti ekspedisi hukuman ter Poorten selama beberapa hari.

Kendati kejutan budaya yang dialaminya, van Kampen memahami alasan di balik “kultus berdarah” suku Wairu dari kawasan Mappi. Pengayauan yang mereka lakukan bertujuan untuk mencari daya hidup di kepala orang yang lehernya ditebas, daya hidup yang ingin mereka kuasai (hal. 74).

Setibanya di Merauke dari Tanah Merah, van Kampen menderita malaria dan harus dirawat di balik kelambu selama seminggu.

Info tentang Jungle Pimpernel

Sesudah pulih, van Kampen berencana ke Danau Paniai, danau terbesar di antara ketiga Danau Wissel, dengan menumpang sebuah pesawat terbang Catalina dari Biak. Dari info yang dia dapat di Merauke, penumpang pesawat terbang itu mencakup Residen Pegunungan Tengah NNG; le Roux, seorang pelancung dan penemu; seorang misionaris Kristen; beberapa orang petualangan; Mieke van der Meer; dan barangkali Jungle Pimpernel. Selain awak pesawat terbang itu, beberapa orang pegawai pemerintahan dalam negeri (PDN) ikut untuk menjalankan kembali pemerintahan di Enarotali, kawasan yang mencakup Danau-Danau Wissel, yang didirikan 1939 tapi dimusnahkan selama pendudukan Jepang.

Info Hellinga

Hellinga, pegawai pamong praja itu, memberi info lebih jauh yang menimbulkan kesan khusus tentang kepribadian, pekerjaan, dan pengaruh besar Jungle Pimpernel (JP) di tengah-tengah penduduk Ekari di Enarotali. Orang Papua gunung, kata Hellinga, sangat cinta damai. JP sangat dicintai rakyat Danau Wissel. Dia dipandang tuan besar, majikan, dewa mereka. JP berhasil melakukan apa yang belum pernah dilakukan orang Belanda sebelumnya di NNG: “menjadi orang Papua dengan orang Papua”, hidup sebagai “orang Papua di antara orang Papua” (78). Dia satu-satunya orang Belanda yang tinggal di NG selama pendudukan Jepang, bersembunyi dengan “hidup sebagai orang Papua”, dekat danau-danau itu. Selama tahun-tahun itu, tidak seorang anggota tentara Jepang pun yang menangkap dia. Namanya terjalin di danau-danau itu dan ribuan lelaki dan wanita yang tinggal di situ tidak sekalipun mengkhianati dia kepada tentara Jepang. Dia melakukan pekerjaan yang istimewa bagi Tentara Sekutu dan bahkan pekerjaan yang istimewa sebagai seorang peneliti dan penemu. Demi memperluas dan menegakkan wibawa pemerintah Belanda di Pegunungan Tengah, JP, masih muda dan lajang, melakukan pekerjaan yang berat seorang diri. Apa rahasianya bertahan di kawasan yang demikian terpencil, sepi, di antara orang Papua gunung yang masih primitif? Dia punya idealisme. Tentang hal ini, Hellinga mengatakan pada van Kampen, “Pekerjaan begitu berat sehingga Anda bisa melakukannya sendiri kalau Anda seorang idealis dan bersedia meninggalkan dunia.”

Alasan de Bruyn bekerja di NGB

Sebulan sesudah percakapannya dengan Hellinga, Anthony van Kampen terbang dari Merauke ke Biak. Dia menginap di mes KLM, maskapai penerbangan Belanda, di Biak sambil menunggu kedatangan Catalina yang akan menerbangkan dia dan rombongan lain, termasuk Dr. J.V. de Bruyn, ke lembah Danau-Danau Wissel.

Sementara masih di Belanda, de Bruyn sudah memilih Nieuw Guinea Belanda sebagai lokasi kerjanya di masa depan sebagai seorang pegawai PDN di Hindia Belanda. Tapi pilihannya untuk bekerja di NGB waktu itu dipandang aneh dan tidak normal. Sangat banyak pos pemerintahan yang nyaman tersebar di Jawa, Sumatra, dan Maluku. Kecuali Nieuw Guinea Belanda, suatu kawasan rimba raya yang tidak menyenangkan, dengan banyak nyamuk malaria yang menimbulkan demam, dan suatu kawasan yang menimbulkan rasa sepi.

Tapi Dr. de Bruyn tidak menghiraukan persuasi negatif tadi. Tekadnya untuk tinggal dan bekerja di NGB sudah bulat. Dia seorang idealis yang mau tinggal dan bekerja di antara orang-orang Papua gunung.

Akhirnya, dia, pada usia 25 tahun dan lajang, diangkat menjadi seorang pegawai Pemerintahan Dalam Negeri Belanda di Danau-Danau Wissel, Enarotali. Dia hidup dan bekerja di antara orang-orang Papua gunung yang masih hidup dalam Zaman Batu.

De Bruyn memenangkan rasa percaya penduduk

De Bruyn memenangkan rasa percaya yang besar dari penduduk padanya. Mereka segera memandangnya sebagai seorang sahabat dan penasehat. Dia sangat teguh memegang prinsip; dia tidak pernah berbohong kepada seorang Papua gunung. Sebagai akibatnya, orang Papua gunung tidak pernah berbohong padanya. Ketika pecah Perang Dunia II dan tentara Jepang memasuki Enarotali, mereka mencoba selama bertahun-tahun menangkap de Bruyn, berdinas pada Tentara Sekutu di Australia dengan melakukan pekerjaan intelijens. Ribuan lelaki dan wanita Papua gunung yang hidupnya sangat terkebelakang dibanding peradaban Eropa tidak sekalipun mengkhianati teman putihnya yang besar, yang mereka sebut Kontolule. Berkali-kali, mereka punya kesempatan memperoleh bayaran tinggi kalau mereka bisa menyerahkan de Bruyn kepada tentara Jepang, tapi mereka tidak menerima tawaran itu.

de bruijn
Sang Jungle Pimpernel, Dr. J.V. de Bruyn


Evakuasi

Pada Maret 1942, de Bruyn mengirimkan suatu berita melalui pengirim radio portabelnya ke Australia. Dia berkali-kali meminta pengiriman sebuah pesawat terbang untuk mengungsikan sekelompok kecil orang Belanda dan dua orang misionaris Amerika Serikat. Seluruh pesisir Nieuw Guinea Belanda sudah di bawah kekuasaan tentara Jepang, kecuali Merauke. De Bruyn sendiri memutuskan untuk melakukan kegiatan intelijens untuk Tentara Sekutu di Australia. Artinya, dia harus hidup di tengah orang Ekari, menjadi orang Papua gunung. Akhirnya, dia punya ribuan lelaki Papua di sekitarnya yang menyebutnya sahabat mereka.

Berita yang dikirimkan melalui radio ternyata ditanggapi. Sebuah pesawat terbang Catalina tua bernomor kode Y 45 mendarat di Danau Paniai. Pesawat itu lalu mengangkut rombongan pengungsi Belanda dan AS ke Australia.

Perlawanan terhadap tentara Jepang

Tiga hari kemudian, tentara Jepang mencapai Danau-Danau Wissel. De  Bruyn dan pasukan kecilnya sudah lenyap di hutan rimba. Dia memilih tiga puluh orang Ekari yang setia mengikutinya. Pada fase terakhir PD II, dia – kecuali beberapa orang teman Belanda – punya delapan sukarelawan yang mengelilinginya. Ada Gout, seorang anak Indonesia; Berger, seorang Belanda asal Limburg; Toumahu, seorang Ambon; Lambert Nuruwe, seorang Seram; Bao, seorang Timor berusia lima belas tahun, seorang hukuman yang diberi pengampunan oleh de Bruyn; Kota Dinny, seorang polisi Ambon; Kaburuan, seorang polisi Menado; dan Habel Honggulyan, seorang polisi Papua dari Fakfak. Para lelaki ini membentuk kelompok intelijens Oaktree dan Crayfish.

Ketika dikejar-kejar Jepang, dia mengambil keputusan untuk menjadi orang Papua gunung. Ketika pekerjaan luar biasa dia di pedalaman menjadi terkenal, dia dijuluki Jungle Pimpernel.

Kesetiaan orang Papua gunung

Dia berangkat ke arah Timur dan tidak pernah dilihat lagi, ditemani beberapa orang Papua gunung dan pemandu serta “kakak lelaki” dia, Soalekigi, waktu itu berusia 50 tahun. Dia dari suku Moni, kepala kampung Idodah, Aligame (Teman) de Bruyn; Soalekigi baik, kuat, setia, jujur, dan sangat cerdas.

Dalam kehidupan itu, de Bruyn  menyaksikan kehidupan orang sebagaimana mereka hidup dalam Zaman Batu. Selama tahun-tahun itu, dia belajar mencintai penduduk gunung. Dia tidak melihat mereka sebagai penduduk primitif; dia melihat mereka sebagai manusia. Mereka pun mencintainya sebagai seorang saudara mereka, bahkan berani berkorban untuk membelanya, termasuk tidak mengkhianati dia kepada tentara Jepang sekalipun peluang itu ada.

“Orang-orang Jepang datang ke danau-danau itu dan bertanya kepada penduduk Ekari: ‘Katakan kepada kami di mana lelaki kulit putih itu.’ Mereka memandang prajurit-prajurit kuning itu dan mengatakan, ‘Kontolule pergi dan kami tidak tahu ke mana. Tidak … kami tidak tahu. Cari sendiri!” (hal.22)

Tentara Jepang mengancam mereka tapi itu sia-sia. Mereka tidak tahu ke mana Kontolule pergi, katanya terus-menerus. Tidak satu pun dari mereka yang hidup di Zaman Batu itu mengkhianati de Bruyn.

Jungle Pimpernel adalah seorang pejuang bagi Tentara Sekutu, pejalan rimba, petualang, mata-mata, idealis, sarjana. Tapi tanpa bantuan teman-teman Ekari, dia tidak akan mencapai apa pun dan rugi. Selain itu, dukungan NEFIS memampukan dia bertahan hidup di hutan rimba bersama orang Papua gunung.

Van Kampen Terbang ke Enarotali

Sesudah mempersiapkan pembaca dengan latar belakang perjuangan de Bruyn bersama tentara kecilnya dan hubungan saling percaya dan mendukung antara dia dan orang Papua gunung, Anthony van Kampen kembali pada rencananya terbang ke Enarotali. Akhirnya, dia menumpang Catalina yang terbang dari Biak ke Danau-Danau Wissel. Untuk pertama kali, dia bertemu Dr. Victor de Bruyn dalam penerbangan itu; selain itu, dia berjumpa dengan Mieke van der Veer.
Akhirnya, Catalina mendarat di Danau Paniai. JP berhasil memanggil orang Ekari dalam bahasa daerah mereka untuk datang ke pesawat terbang.
JP dan rombongan yang akan mendarat dijemput dengan perahu-perahu Ekari. Van Kampen dan Mieke van der Meer ikut ke darat. JP disambut dengan hangat oleh suku Ekari. Ini kali pertama sesudah PD II dia berjumpa kembali dengan sahabat-sahabatnya, orang Papua gunung.
(Bersambung)

Selasa, 17 Mei 2011

12. Trilogi Jungle Pimpernel I

jungle pimpernel2 Suatu himpunan kisah yang mencakup Jungle Pimpernel (terbit pertama kali 1949); Het laatste bivak (terbit pertama kali 1950); dan De verloren vallei (terbit pertama kali 1951)

(Dipersembahkan untuk mantan pegawai Pemerintahan dalam Negeri bekas Nieuw Guinea Belanda disingkat NGB, suatu bagian kerajaan Belanda)

Oleh Anthony van Kampen

Tempat, penerbitan, tahun: Postbus 97, 3990 DB Houten Unieboek BV Van Holkema & Warendorf, 1986 Cetakan ke-13

Gambar sampul depan: Henk van der Frande

Non-fiksi: 640 halaman

Kategori: NON-FIKSI/KISAH JURNALISTIK/SEJARAH

***
Anthony van Kampen menulis suatu trilogi yang kisahnya terjadi di Nieuw Guinea Belanda: Jungle Pimpernel, Controleur B.B. (Pimpernel Hutan Rimba, Kontrolir Pemerintahan dalam Negeri); Het laatste bivak (Pondok terakhir); dan De verloren vallei (Lembah yang hilang). Kumpulan tiga buku ini membuatnya terkenal secara internasional melalui Jungle Pimpernel. (Controleur sebenarnya berarti pemeriksa, pengawas; dalam sistem pemerintahan dalam negeri di Hindia Belanda, kontrolir adalah pangkat paling bawah.)

anthony van kampen1
Suatu guntingan koran berbahasa Belanda berisi suatu pasfoto Anthony van Kampen dan judul berita tentang meninggalnya dia (di Belanda)


Dr. Jean Victor de Bruyn, seorang pegawai pamong praja dan ahli etnologi asal Belanda, menjadi pemeran utama dalam buku-buku ini sebagai “Jungle Pimpernel.” Tahun 1907, dua orang penjelajah Belanda, Lorentz dan Van Nouhuys, berkenalan untuk pertama kali dengan orang-orang Papua gunung. Tapi Dr. de Bruyn itulah orang kulit putih pertama yang hidup bersama suatu suku “Zaman Batu” di Pegunungan Tengah Nieuw Guinea Belanda selama bertahun-tahun. Suatu petualangan yang mengesankan, heroik, yang oleh seorang penulis resensi dicirikan sebagai “suatu anak panah di jantung diskriminasi rasial.”

Penemuan dan Pemerintahan Belanda di Pegunungan Tengah Nieuw Guinea Belanda

Kisah itu bermula dari pos pemerintahan Belanda di Enarotali, dengan Dr. J. V. de Bruyn sebagai Kontrolir. Dalam ucapan penduduk Ekari di kawasan itu, de Bruyn dikenal dengan sebutan Kontolule. Kawasan itu merupakan suatu lembah dengan tiga danau.

Ketiga danau di Enarotali dinamakan sesuai nama marga F.J. Wissel, seorang perwira penerbang AL Kerajaan Belanda, akhir 1936. Dia juga, bersama Atkinson (seorang mekanik asal AS) dan dua orang penumpang, orang kulit putih pertama yang mengamati danau-danau itu dari sebuah pesawat terbang Sikorsky bermotor ganda yang diterbangkannya. Kemudian, ketiga danau Wissel itu dikenal sebagai Danau Paniai, Danau Tigi, dan Danau Tage. Yang terluas adalah Danau Paniai.

Untuk mengenal Paniai lebih dekat, Wissel terbang beberapa puluh meter di atas permukaan danau itu. Penduduk Papua yang berperahu di danau itu baru pertama kali melihat benda terbang seperti itu. Ia seekor “burung dahsyat”, sangat menakutkan. Mereka sangat takut, terpaku di perahu-perahunya sambil melihat “seorang setan yang menderu-deru” dan “menukik dari langit.”

Tapi orang kulit putih pertama yang mendarat di Danau Wissel 11 November 1937 adalah Letnan Angkatan Laut Belanda, van Olm. Dia komandan tiga pesawat terbang AL Belanda yang mendarat di danau-danau itu. Dr. Cator ikut dalam penerbangan itu.

Sebelum Dr. J.V. de Bruyn bekerja di Enarotali, Dr. W. J. Cator, seorang Asisten Residen Belanda, berjumpa suku Ekari dan suatu klen besar suku Moni di kawasan itu pada 18 September 1936. Dia kembali ke pantai bagian Selatan NG. Pada tanggal 3 Desember 1937, Dr. Cator dan rombongannya menyusuri Sungai Uta lagi, berjalan kaki beberapa hari ke pedalaman, mencapai suatu dataran yang dihuni suatu klen besar dari suku Moni di selatan Danau Tigi. Tanggal 16 Desember 1937, dia mencapai tepi barat Danau Tigi; kemudian, dia mencapai Danau Paniai dan Danau Tage. Sesudah kembali lagi ke pesisir, Cator kembali lagi ke Danau-Danau Wissel 14 Mei 1938 untuk mempersiapkan pemukiman pemerintahan di Enarotali, pojok tenggara Danau Paniai. Tapi pos pemerintahan Belanda pertama di Paniai didirikan J.P.K. van Eechoud, seorang Komisaris Polisi yang kemudian menjadi Residen Nieuw Guinea Belanda. Pada tanggal 10 November 1938, pos pemerintahan Belanda pertama di Enarotali diserahkan kepada Kontrolir Dr. J.F. Stutterheim. Pada tanggal 20 Januari 1939, Dr. Stutterheim diganti Aspiran (Calon) Kontrolir Dr. J. V. de Bruyn.

Riwayat Hidup Ringkas Dr. J.V. de Bruyn (1913-1979)

Jean Victor de Bruyn lahir di Magelang, Jawa Tengah, 25 November 1913. Ayahnya seorang administrator perkebunan tebu di Magelang; sumber lain mengatakan perkebunan itu ada di Semarang. Dia seorang tamatan terbaik suatu HBS (Hogere Burger School, semacam SMA atau SMU) di Semarang; 1931, dia kuliah Indologi pada Universitas Leiden di Belanda; menyelesaikan kuliahnya pada tanggal 24 September 1935, lebih cepat dari kuliah Indologi selama lima tahun di Leiden. Keinginannya satu: bekerja pada Pemerintahan Dalam Negeri (PDN) di Hindia Belanda. Tanggal 10 Desember 1937, pada usia 24 tahun, dia meraih gelar doktor dalam bidang filsafat dan kesusastraan pada Universitas Leiden.

Sekembalinya dia ke Hindia Belanda dan menjadi seorang pegawai negeri PDN, dia ditempatkan di Maluku Selatan antara 1938 dan 1939 sebelum dia berangkat ke Danau-Danau Wissel. Mula-mula, dia menjadi seorang pegawai PDN di Saparua antara Februari 1938 dan Mei 1939. Kemudian, dia menjadi pegawai PDN lagi di Seram antara Mei 1938 dan Januari 1939. Pada tanggal 20 Januari 1939, dia berangkat ke Danau-Danau Wissel, bekerja di sana sampai dengan 26 Juli 1944, kemudian kembali ke sana sesudah PD II.

Selama PD II di Nieuw Guinea Belanda, dia menjadi seorang anggota NEFIS (the Netherlands Forces Intelligence Service). Dr. de Bruyn bergabung dengan NEFIS di Australia tahun 1942 ketika dia libur di negara ini untuk pemeriksaan kesehatannya lalu segera kembali ke Nieuw Guinea.

NEFIS didirikan pemerintah Hindia Belanda dalam pengasingan di Melbourne, Australia, sesudah kejatuhan Hindia Belanda ke tangan tentara Jepang. Tujuan lembaga intelijens ini adalah untuk memberi Tentara Sekutu intelijens terkini tentang apa yang terjadi di kawasan-kawasan Hindia Belanda, termasuk Nieuw Guinea Belanda, yang diduduki Jepang. NEFIS berkembang menjadi suatu organisasi yang rumit yang mencakup pengumpulan dan distribusi semua jenis intelijens.

Beberapa operasi NEFIS berhasil dilakukan. Pada umumnya, operasi-operasi itu cenderung melibatkan kelompok-kelompok perlawanan terhadap Jepang; hubungan kelompok-kelompok itu dengan induknya sudah terputus. Mereka lalu bergerak di belakang garis musuh, dipersenjatai cukup baik, dan bertindak sebagai pejuang gerilya.

Operasi-operasi NEFIS yang berhasil mencakup kelompok perlawanan bersenjata di Nieuw Guinea Belanda. Barangkali, untuk mengelabui tentara Jepang yang mengejar kelompok ini, dua nama sandi diberikan pada kelompok yang sama: kelompok Oaktree dan kelompok Crayfish.

Kelompok Oaktree berlokasi di Pegunungan Tengah NGB dan secara khusus dipimpin Kapten J. V. de Bruyn. Kelompok itu menjadi suatu duri di lambung tentara Jepang antara 1942 dan 1944. Dengan mengandalkan sebuah pengirim pesan radio portabel, mereka mampu mengirimkan secara rahasia kepada NEFIS di Australia intelijens yang berharga, seperti gerak maju dan kekuatan tentara Jepang di Pegunungan Tengah.

Kelompok perlawanan pimpinan de Bruyn berjumlah kecil. Mereka terdiri dari 38 orang lelaki: seorang operator radio asal Belanda, 8 anggota polisi kolonial, dan 29 orang Papua gunung. Aksi perlawanan mereka berhasil memperlambat gerak maju tentara Jepang sepanjang pesisir selatan NGB.

Tentara Jepang memburu de Bruyn dan kelompoknya. Mereka memberi tekanan pada para gerilyawan itu dengan mengirimkan satu batalyon lengkap untuk menangkap “mata-mata Belanda” itu, tapi dia tidak bisa ditemukan. Ratusan anggota tentara Jepang itu malah mati, di antaranya karena demam malaria dan kesengsaraan. Tentara Jepang juga melakukan kekejaman terhadap orang-orang Papua gunung, tindakan yang menimbulkan kebencian mereka pada “orang-orang kuning” itu dan keberpihakan yang makin kuat pada de Bruyn dan kelompok gerilyanya.

Sesudah dikalahkan Tentara Sekutu yang menyerang Hollandia April 1944 kemudian Sarmi, Biak, Sausapor, dan kawasan-kawasan pesisir NGB yang lain, tentara Jepang yang kalah menyelamatkan diri ke hutan-hutan. Mereka yang ditempatkan di Pegunungan Tengah pun melarikan diri ke pedalaman tapi dibunuh orang-orang Papua gunung yang sudah menyimpan kebencian pada mereka karena kekejamannya.

Aksi de Bruyn dan kelompok Oaktree memata-matai tentara Jepang dan melawan mereka secara bergerilya tanpa sekalipun ditangkap mengubah de Bruyn menjadi suatu legenda yang hidup. Akhirnya, dua pesawat terbang Catalina dengan kawalan sebuah pesawat pembom Mitchell mendarat di Danau Hagers (Danau Vonk) mengangkut 43 orang lelaki, termasuk orang-orang Papua gunung yang dengan setia dan berani menjadi “pengawal pribadi” de Bruyn. Jumlah itu mencakup juga anggota Oaktree dan Crayfish dari NEFIS ke Australia. Tapi de Bruyn tetap tinggal di Nieuw Guinea.

Kesuksesan de Bruyn dan kelompok perlawanan pimpinannya punya makna lain. Prestise pemerintah Belanda di antara penduduk Papua gunung tetap dipertahankan.

Di akhir PD II, Lloyd Rhys, seorang koresponden perang dan penulis biografi Dr. J. V. de Bruyn memberinya julukan Jungle Pimpernel. Sampai batas tertentu, julukan ini mengacu pada perulangan kisah heroik Scarlet Pimpernel (Pimpernel Merah) selama Revolusi Perancis (paruhan kedua abad ke-18) yang menumbangkan sistem monarki Perancis dan menggantikannya dengan sistem republik. Itu suatu julukan romantik bagi seorang bangsawan Inggris yang menyelamatkan kepala bangsawan-bangsawan Perancis dari pisau raksasa guillotine ketika timbul teror sesudah Revolusi Perancis. Pimpernel Merah selalu tidak bisa ditemukan, ditangkap, dipahami tentara Perancis. Dr. Jean Victor de Bruyn, lelaki dari danau-danau di hutan rimba Pegunungan Tengah Papua itu, tidak bisa juga ditemukan tentara Jepang; tidak seorang pun anggota tentara Jepang menyentuh dia dengan jarinya. Karena pengalamannya mengelak dari tentara Jepang terjadi di hutan rimba (jungle) Pegunungan Tengah antara 1942 dan 1944, de Bruyn dijuluki Jungle Pimpernel.

Sesudah petualangan-petualangan perlawanannya, Dr. de Bruyn harus dirawat untuk jangka waktu yang lama karena gizi yang buruk dan keletihan di suatu rumah sakit di Australia Agustus 1945. Di sini, dia dirawat Letnan Dua Geertje Botma, seorang perawat wanita asal Friesland (Belanda) berambut pirang dan bermata biru. Mereka berdua kemudian menikah di pulau Biak, Nieuw Guinea Belanda, tempat de Bruyn menjadi Kepala Pemerintahan Setempat, semacam camat.

de bruijn Dr. J. V. de Bruyn, sang Jungle Pimpernel

Atas jasa-jasanya yang luar biasa, dia diberi beberapa tanda penghargaan oleh Pemerintah Belanda. Dia dianugerahi Salib Perunggu, Salib Peringatan Perang, dan Orde dari Oranye-Nassau.

Sesudah Irian Barat diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Indonesia 1 Mei 1963, Dr. J. V. de Bruyn yang, menjelang penyerahan kedaulatan itu tinggal dan bekerja di Hollandia, pulang ke Belanda tahun 1965. Pada tahun 1978, dia menerbitkan buku kenang-kenangannya, Het Verdwenen Volk (Bangsa yang Lenyap), suatu best seller. Buku itu menunjukkan juga keprihatinannya terhadap nasib orang Papua yang bisa lenyap identitasnya di masa depan kalau pemerintah Indonesia mengabaikan hak mereka berada sebagai suatu kelompok etnik dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa. Dr. Jean Victor de Bruyn, sang Jungle Pimpernel, wafat di Driebergen-Zeit, Belanda, 8 Februari 1979.

het verdwenen volk
Best seller Dr. J. V. de Bruyn


Kata pengantar J.V. de Bruyn

Dalam trilogi Jungle karya Anthony van Kampen, Dr. de Bruyn memberi kata pengantarnya, ditulis di Hollandia (kini, Jayapura) tahun 1961. Berikut isinya.

Episode “Jungle Pimpernel” yang dibaca kembali menimbulkan kenangan akan upaya mempertahankan bendera Belanda di Pegunungan Nieuw Guinea (disingkat NG) dan kehidupan bersama orang Papua primitif di bagian pulau besar itu. Episode itu berlangsung ke arah Timur Danau Wissel, tempat pos pemerintahan Belanda pertama pimpinan Dr. J.V. de Bruyn berada, yaitu di Kemandora, Dogindora, dan kawasan Roufflaer Atas.

“Jungle Pimpernel, Controleur BB” karya Anthony van Kampen bukanlah suatu “mitos” melainkan suatu sejarah padat-kental yang dialami “sekelompok kecil sukarelawan yang tinggal bersama orang Papua pegunungan yang paling primitif yang dalam perjuangan kami melawan Jepang menjadi sahabat dan sekutu kami yang paling sejati. Kelompok perlawanan kecil itu secara sukarela bersama sahabat-sahabatnya orang Papua pegunungan mengalami penderitaan karena kedinginan, kelaparan, dan dikejar oleh tentara Jepang. Dengan susah payah, kelompok perlawanan itu melewati pegunungan tinggi dan mencapai dataran rendah dan Danau Hagers 26 Juli 1944.

Kini, ketika saya menulis pengantar ini di Hollandia 1961, pencapaian danau itu terjadi tujuh belas tahun yang lalu. Danau Hagers – di ujung barat Meervlakte – tempat dua pesawat terbang Catalina dan AL Kerajaan Belanda mendarat, dengan musuh tidak jauh dari danau itu.

Perjalanan kelompok perlawanan itu dari pegunungan tinggi tadi menuju Danau Hagers berlangsung tiga bulan. Penderitaan dan ketegangan selama tiga bulan itu tampak pada wajah-wajah yang kurus dari mereka. Di hati banyak orang, naiklah doa-doa kepada Allah bahwa 26 Juli 1944 adalah akhir semua penderitaan, juga di hati 28 orang Papua gunung, yang selama waktu itu tetap setia dan bersama kami mengalami semua kesukaran itu.

Pada jam 8:30 pagi, dua pesawat terbang Catalina dari AL Kerajaan Belanda dikawal sebuah pesawat pembom Mitchell mendarat di Danau Hagers. Empat puluh lima menit kemudian, kelompok itu sudah aman di udara menuju Hollandia yang sudah dibebaskan, tempat tentara Amerika sudah mendirikan suatu pangkalan militer sangat besar. Dalam catatan hariannya, de Bruyn menulis: “26 Juli 1944 … Oaktree selesai. ‘Oaktree’, kelompok intelijens Nefis, yang dipimpin de Bruyn, berakhir. Misinya selesai.”

bruijn Jungle Pimpernel, Dr. de Bruyn, berfoto bersama kelompok perlawanannya, mencakup beberapa orang Papua gunung

Direktur Nefis di Melbourne, Australia, mengirimkan telegram (1943?): “Informasi Anda sangat bernilai. Bravo.” Dua hari sebelum Danau Wissel diduduki Jepang, warga negara Belanda lain di situ – pegawai, polisi, pekerja misi penginjilan Protestan dan Katolik – dievakuasi melalui pesawat terbang Catalina, terbang ke Merauke lalu terbang ke Hindia Belanda yang sudah bebas.

Rombongan de Bruyn mencakup Rudy Gout, radiotelegrafis; Berger, kopral KNIL; Katadini dan Kaburuan, agen polisi lapangan; Toumahu, tukang kayu; Nurwe, koki; Hongolyan, agen polisi lanskap; dan Bio, seorang lelaki mantan pembunuh tapi diberi pengampunan dan memilih mengikuti kelompok kecil itu.

Selain itu, rombongan itu mencakup orang-orang Papua gunung dari Zaman Batu, warga negara Belanda yang paling sederhana. Ada 28 orang pemuda Papua gunung sebagai “pengawal pribadi” de Bruyn. Meskipun ikut mengalami semua penderitaan dan kesengsaraan, mereka tetap bersama rombongan itu dan ikut dievakuasi. Beberapa lelaki Papua gunung yang menonjol disebut de Bruyn secara khusus. Ada Weakebo yang mengirimkan putera-puteranya bergabung dengan rombongan de Bruyn dan cangkang kerang kauri, “mata uang” suku-suku Pegunungan Tengah waktu itu. Ada juga Soalekigi yang memandang de Bruyn sebagai “adiknya” dan Kikimoayakigi, kedua-duanya pemimpin kelompok perlawanan penduduk asli melawan tentara Jepang di Kugapa. Buyani secara teratur menyampaikan berita tentang gerak-gerik tentara Jepang; Buwadituma memanah untuk pertama kali seorang anggota tentara Jepang; dan Metakipame serta Korobiya masing-masing merelakan rumahnya sebagai tempat tinggal yang lebih hangat bagi rombongan de Bruyn.

Sesudah “Oaktree” tiba dengan selamat di Australia, tentara Jepang membuat siaran radio dari Jawa 18 Agustus 1944 bahwa seluruh kisah de Bruyn dan rombongannya hanya suatu propaganda Belanda. Tidak mungkin de Bruyn menjalankan di pegunungan liar selama tahun-tahun itu, sekalipun dia punya seperangkat radio ajaib yang memampukannya tetap bertahan hidup.

Jungle Pimpernel adalah suatu kisah tidak hanya tentang de Bruyn saja tapi juga suatu sejarah manusia. Itu suatu sejarah yang dibuat bersama oleh banyak orang, yaitu oleh  apa yang disebut orang Ekari sebagai “orang-orang Surabaya” (de Bruyn dan orang asing lainnya dari Hindia Belanda) dan orang Papua.

Sesudah PD II di Enarotali, pos pemerintahan Belanda di kawasan itu yang dihancurkan tentara Jepang, didirikan kembali. Berdirilah beberapa pos pemerintahan yang baru di kawasan Danau Wissel.

Anthony van Kampen (1911-1991)

Anthony van Kampen adalah seorang penulis Belanda. Dia belajar ilmu perdagangan di Rotterdam, kemudian menjadi seorang wartawan, dan bekerja untuk suatu jangka waktu yang cukup lama pada suatu perusahaan penerbitan di Belanda. Dia seorang penulis yang gemar melakukan perjalanan.

Minat khusus van Kampen pada Nieuw Guinea Belanda. Segera sesudah PD II, dia memberi kesadaran kepada orang Belanda tentang pembangunan di NGB melalui tulisan-tulisannya. Pada waktu itu, sedikit yang diketahui di Belanda tentang Nieuw Guinea.

Dalam kaitan ini, tujuan kedatangan Anthony van Kampen ke Nederlands Nieuw Guinea adalah, seperti yang dia katakan, untuk “mengetahui apa yang terjadi di belakang hutan rimba Nieuw Guinea.” Kejadian-kejadian itu dia kirim ke koran Belanda yang mempekerjakan dia, diterbitkan untuk dibaca umum untuk menggugah pikiran dan perasaan pemerintah dan masyarakat Belanda agar tidak mengabaikan tanggung jawab pembangunannya di NG. Untuk itu, dia ingin bertemu juga dengan Dr. Jean Victor de Bruyn yang secara internasional terkenal dengan julukan Jungle Pimpernel.

Bagaimanakah cara menggugah kesadaran mereka di Belanda? Melalui “sterke verhalen”, cerita-cerita yang berdampak pada pembacanya di Belanda. Sebagai seorang wartawan profesional dan juga seorang penulis beberapa romans, dia memakai keahliannya melalui rangkaian sterke verhalen untuk mempopulerkan keadaan Nederlands Nieuw Guinea kepada pembaca di Belanda. Trilogi Jungle Pimpernel, misalnya, adalah hasil peleburan penulisan jurnalistik dan cerita romans dalam arti kisah petualangan berlandaskan fakta sejarah abad ke-20.

Untuk mewujudukan tujuan dan rencananya, van Kampen dibantu berbagai pihak untuk mengadakan perjalanannnya di Nieuw Guinea Belanda. Dia dibantu di antaranya oleh Dr. J.V. de Bruyn; Dr. J. van Baal, seorang mantan Gubernur Nieuw Guinea; dan J.P.K. van Eechoud, seorang mantan Residen (semacam Bupati) Belanda. Tanpa bantuan mereka, kata van Kampen, Nieuw Guinea tidak akan diketahui, khususnya di Belanda. Sebaliknya, di Belanda, tidak ada dukungan baginya karena “tidak ada kejadian penting di Nieuw Guinea.”

Triloginya, Jungle, adalah salah satu karyanya untuk memberi kesadaran itu. Ia adalah suatu himpunan tiga buku: Jungle Pimpernel, Controleur B.B.; Het laatste bivak; dan De verloren vallei. Ketiga bukunya berlokasi di NGB. Melalui triloginya, van Kampen mencoba membangkitkan minat yang lebih besar di Belanda pada jajahan Belanda itu. Trilogi itu memerikan dengan cara yang menyerap pikiran pembacanya cara hidup orang Papua dan kedahsyatan pesona alam Nieuw Guinea Belanda masa itu.

Dia menyebut Dr. J.V. de Bruyn sebagai “sahabat, pemandu, dan pemberi ilhamku.” Karyanya, Jungle Pimpernel, adalah bukunya yang pertama, ditulis 1948, satu tahun sesudah dia kembali dari perjalanannya yang pertama ke Nieuw Guinea Belanda. Buku itu diterbitkan setahun kemudian. Dalam buku ini, Anda akan menemukan kembali ketiga peranan de Bruyn tadi baginya. Selain itu, Jungle Pimpernel, Controleur B.B. adalah “suatu contoh yang bercahaya dari integritas dan keberanian untuk menolak kompromi,” imbuh van Kampen.

Sebenarnya, Anthony van Kampen bukanlah penulis pertama tentang Jungle Pimpernel. Yang pertama kali mempopulerkan kisah perlawanan Dr. J. V. de Bruyn dan rombongannnya di Pegunungan Tengah Nieuw Guinea terhadap tentara Jepang yang mengejar mereka antara 1942 dan 1944 adalah Lloyd Rhys, penulis biografi de Bruyn. Judul buku Rhys yang mengakibatkan de Bruyn terkenal secara internasional sebagai Jungle Pimpernel berjudul Jungle pimpernel the story of a district officer in central Netherlands New Guinea.

Buku ini kemudian diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Belanda dengan judul Aligame, vriend der Papoea’s. Het verhaal over de “Jungle Pimpernel” Dr. J. V. de Bruyn onder de Bergpapoea’s in Nieuw Guinea.” Terjemahan Indonesia: Aligame, sahabat orang Papua. Kisah “Jungle Pimpernel” Dr. J. V. de Bruyn yang tinggal di antara orang Papua gunung di Nieuw Guinea.

Lalu, Anthony van Kampen, yang mengunjungi Nieuw Guinea Belanda berkali-kali, menerbitkan trilogi yang berisi juga kisah tentang Jungle Pimpernel. Triloginya lalu diterjemahkan di antaranya ke dalam bahasa Jerman dan semua bahasa Skandinavia: Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia, Islandia, dan Kepulauan Faru.

Karyanya yang lain, Hart zonder haat (Hati tanpa benci), berlokasi juga di Nieuw Guinea Belanda bagian selatan. Romans ini tentang pekerjaan dan kehidupan yang berat dari seorang pegawai pamong praja pemerintah Belanda dan isterinya di suatu kawasan pedalaman terpencil, perselingkuhan isterinya dengan seorang Belanda karyawan perusahaan minyak di Sorong, dan pelayanan kemanusiaan isterinya kemudian hari di Merauke. Untuk pembangunan manusia Papua di NGB, dibutuhkan bukan hati yang membenci penduduk asli melainkan hati tanpa benci – kasih dan sikap tanpa pamrih.

hart zonder jaat
Hart zonder haat, suatu romans karya Anthony van Kampen, berlokasi juga di Nieuw Guinea Belanda


Dalam kaitan ini, van Kampen sangat terkesan dengan Nieuw Guinea Belanda. “Nieuw Guinea menawan saya, sejak hari pertama, sejak saat pertama ketika saya, bersama dengan almarhum sineas Angkatan Laut Kerajaan Belanda Frits Wassenburg, dalam sebuah pesawat terbang Catalina yang tua … mendarat di pantai utara pulau” Dom, dekat Sorong. “Pesona itu tidak sekalipun, sampai pada hari ini, berkurang. Saya sangat yakin bahwa pesona itu akan bertahan lama, sepanjang hidupku” (halaman 11).

Sesudah pengantar ini, resensi Jungle Pimpernel, Controleur B.B., akan disajikan dalam tulisan berikut. Apa isinya?